PHALAENOPSIS amabilis (anggrek bulan) spesies Pelaihari merupakan salah satu anggrek terbaik di dunia. Tanaman yang banyak tumbuh di hutan Kalsel terutama di kawasan pegunungan Meratus wilayah Tanahlaut itu kerap diburu untuk disilangkan dengan anggrek jenis lain.

Sebenarnya Kalsel memiliki banyak spesies anggrek bulan, namun anggrek bulan Pelaihari yang paling dikenal di kalangan pecinta anggrek dunia.

Biasanya, hasil persilangan anggrek yang mendapat jejuluk puspa pesona itu sangat bagus. Bunganya mampu bertahan cukup lama, antara tiga hingga enam bulan. Beberapa jenis kuntum anggrek silangan itu adalah onchidium, dinchildium, renantera dan panda.

Kelebihan lain adalah jumlah kuntumnya. Dalam satu tangkai bisa mencapai 25-50 kuntum, sedangkan anggrek biasa hanya 10-15 kuntum. Selain itu, anggrek ini punya banyak cabang di dalam tangkainya.

Dengan segala kelebihannya ini, Anggrek Bulan Pelaihari banyak diburu orang dari habitat aslinya dan dijual hingga ke luar negeri. Kini, sangat sulit menemukan anggrek jenis ini di hutan-hutan Banua.

Keindahan anggrek bulan Pelaihari menjadi salah satu pendukung kemenangan yang diraih Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kalsel yan mewakili Indonesia dalam event internasional 5th China International Orchid Show di Luhuitou Square, Kota Sanya, Hainan, Cina, Jumat (7/1/2011).

Meski tidak mengikuti lomba anggrek lantaran terlambat mendaftar, tak menciutkan rombongan PAI Kalsel untuk berprestasi.

Dengan penuh semangat dan keyakinan tinggi, rombongan yang dipimpin Ketua PAI Kalsel Hj Aida Muslimah Rosehan NB mengikuti perlombaan kategori taman anggrek ukuran 10 meter kali 6 meter. Tiga hari lamanya anggota rombongan bahu membahu menata taman bunga itu.

Walhasil, rombongan yang juga didukung PAI pusat dan PAI Tanahlaut mendapatkan gelar terhormat. Terbaik di antara perwakilan 22 negara. “Alhamdulillah, kami berhasil mendapatkan juara pertama dalam lomba landscape display (taman) dan berhak membawa pulang Golden Award,” ujar Aida dari Cina.

Prestasi ini membanggakan karena baru kali ini, kontingan Indonesia mendapat juara pertama dalam gelaran yang telah diadakan selama empat kali itu. Selama ini, negara yang kerap memenangi adalah Singapura dan Cina.

Dikatakan Aida, empat bulan sebelum berangkat ke Negeri Tirai Bambu itu, mereka telah melakukan persiapan matang. “Taman yang kami bikin menekankan nilai-nilai tradisional Kalsel,” ujarnya.

Menurut istri mantan Wakil Gubernur Kalsel, H Rosehan NB ini, di taman itu terdapat replika rumah khas Banjar dengan pernak pernik kain sasirangan, jukung, boneka bekantan dan boneka Si Palui –ikon BPost sekaligus ikon Kalsel. Selain itu ada lima anggota PAI Kalsel yang menggunakan pakaian Dayak Banjar.

Tak ayal, stan Indonesia paling ramai dikunjungi. “Banyak yang berfoto di rumah Banjar. Sambutannya luar biasa,” kata Aida.

Dia mengatakan keberhasilan itu tidak terlepas dari besarnya dukungan warga Kalsel seperti Banjarmasin Post Group, Pemprov Kalsel, Pemko Banjarmasin, Pemkab Tanahlaut dan PT Adaro. “Selain itu saya mengucapkan banyak terima kasih untuk teman-teman PAI Kalsel Kalsel, DPC PAI Banjarmasin, DPC PAI Tanahlaut, DPC PAI Banjarbaru dan Orchid Indonesia,” ucapnya.

 

Editor: Anita K Wardhani

Sumber tulisan: www.tribunnews.com