Prestasi anggrek Papua telah mendunia, fakta telah membuktikan hal tersebut. Dendrobium violaceoflavens asal Timika dan hibrida Dendrobium waianae profusion telah memikat hati para juri pada Pameran Anggrek di Syah Alam Malaysia tanggal 24 April – 02 Mei 2002, pada perhelatan akbar penggemar anggrek  seluruh dunia yang bertajuk World Orchid Conference (WOC) ke17. Kedua jenis  tersebut menyabet gelar pertama, sedangkan 7 kerabatnya meraih gelar kedua dan satu lagi memperoleh gelar ketiga. Prestasi luar biasa ini membuat bangga Menteri Pertanian Bungaran Saragih yang menyurati PAI (Perhimpunan Anggrek Indonesia) Prop. Papua secara khusus untuk mengucapkan selamat.

Keberhasilan yang digapai oleh Team PAI Prop. Papua yang ditunjuk mewakili  Indonesia telah membuka mata dunia internasional betapa masih banyak keunikan, keindahan belantara Papua yang belum pernah diekspos keluar. Berdasarkan catatan PAI Prop. Papua diperkirakan terdapat lebih dri 2.770 spesies anggrek, sedangkan yang sudah diidentifikasi dan didokumentasikan baru sekitar 300 jenis, dari jumlah tersebut yang sudah dipromosikan di tingkat nasional baru 25 jenis dan di tingkat   internasional 10 – 15 jenis. Jadi masih terbuka peluang untuk pengembangan anggrek asal Papua.

Daya tarik, keindahan  serta keunikan anggrek asal Papua yang mulai mendunia, secara langsung mulai meningkatkan permintaan pasar atas jenis tertentu sehingga diharapkan membuka peluang usaha bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Namun disisi lain apabila sinyal positif ini tidak diantisipasi dengan cermat, maka dapat mengundang bahaya yang tidak kalah besarnya. Beberapa jenis anggrek yang indah tersebut ternyata dikategorikan sebagai jenis yang dilindungi berdasarkan PP No.7 tahun 1999, sehingga beberapa orang yang tergiur dengan keuntungan besar mengambil langkah nekad dengan jalan melakukan transaksi secara gelap.

Kondisi ini sangat merugikan masyarakat Papua, karena selain kekayaan alamnya rusak karena dijarah, porsi keuntungan akan jatuh pada orang lain. Untuk itu penerapan ketentuan yang berlaku perlu diimbangi dengan sanksi yang tegas bagi siapapun pelakunya. Apabila dipandang perlu diterbitkan Perda yang memproteksi kekayaan alam Papua dengan sanksi yang tegas. Perda ini juga diharapkan dapat memproteksi sumber daya genetik khas Papua agar tidak punah sebelum diketahui manfaatnya dan penguasaan teknologi budidayanya.

Sementara itu Pemda harus segera merealisasikan  pengadaan laboratorium modern bagi pengembangan budi daya tanaman anggrek maupun jenis lainnya seraya meningkatkan keterampilan sumber daya manusianya. Kedua hal ini mendesak untuk direalisasikan, untuk mengantisipasi permintaan pasar yang semakin meningkat, mengingat selama ini kebutuhan pasar disediakan oleh petani tanaman hias dengan cara-cara tradisionil (mengambil di alam, kemudian dibiakkan di kebun dengan cara konvensional, red). Apabila hal ini terus menerus terjadi, bukan mustahil tingkat “pengurasan” sumber daya alam semakin berlipat dari hari ke hari.

Dengan adanya laboratorium modern untuk membudidayakan anggrek dengan baik maka diharapkan pemenuhan kebutuhan pasar akan anggrek Papua dapat dipenuhi dari hasil budidaya bukannya mengambil dari hutan. Disisi lain Pemda Papua harus berpacu dengan waktu untuk menguasai teknologi budidaya modern agar tidak didahului oleh negara lain yang mengembangbiakkan anggrek asal Papua yang diperoleh dari  pasar “gelap”.  Memang ini suatu langkah yang besar, mengingat kekayaan alam Papua bukan hanya anggrek. Masih banyak peluang usaha yang bisa dijalani oleh rakyat dengan menjual keunikan, keindahan atau manfaat tanaman lainnya, sebut saja Gaharu, dimana bau harumnya mengundang kucuran dollar yang tidak sedikit jumlahnya, atau Palm Papua yang nilainya jutaan rupiah per-batangnya atau jenis lainnya yang dikenal terlebih dahulu seperti Masoi, Kulit Lawang, Pohon Kayu Putih, Gambir dll.

Keterpaduan semua sektor untuk bangkit bersama-sama, itulah kata kunci keberhasilan pembangunan perekonomian masyarakat. Tanpa adanya hal ini bukan tidak mungkin jenis anggrek Kribo (Dendrobium spectabile) suatu saat ternyata dipasarkan di bursa bunga dunia oleh pengusaha Singapura atau Taiwan, karena mereka lebih dahulu menguasai teknik budidaya modern (kultur jaringan, red) sementara Papua harus “puas” dengan keterangan bahwa jenis tersebut berasal dari Papua.

Sumber tulisan: Bunga Rampai Alamku 2007