Balai Kota Among Tani, Kota Malang, Jawa Timur, pada 7-13 Agustus lalu begitu meriah. Saat itu, puluhan orang, termasuk para pembudidaya, berpesta anggrek dalam pameran bernama Shining Orchid Week. Menempati sudut belakang ruang pamer, Kelompok Tani Rejeki Barokah banyak menyuguhkan bibit anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) berumur 3-4 bulan dalam pot plastik kecil. Meski menyuguhkan anggrek muda, gerai Rejeki Barokah menyedot banyak pengunjung. Tak sedikit pengunjung membelinya. Dengan harga Rp 15.000-Rp 150.000 per pot, anggrek muda ini menjadi pilihan pencinta anggrek pemula atau mereka yang suka dengan proses memelihara tanaman sejak kecil (tidak langsung membeli tanaman yang sudah berbunga). Dengan pemeliharaan yang tepat, dalam waktu 1-2 tahun (bergantung pada jenis) tanaman itu sudah bisa berbunga.

Kelompok Tani Rejeki Barokah Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Batu, baru setahun terakhir mengembangkan anggrek. Dari total 30 anggota, sekitar 20 persen (enam orang) beralih pada budidaya anggrek. Sebelumnya, mereka menekuni budidaya aneka sayuran. ”Anggrek lebih menghasilkan ketimbang sayur dan tanaman pangan lainnya. Harga anggrek cenderung stabil, sedangkan harga sayur naik turun dan sering terganggu cuaca,” ujar Mastur SP (39), Ketua Divisi Tanaman Hias Kelompok Tani Rejeki Barokah, Selasa (8/8). Mengembangkan anggrek tidak perlu lahan khusus. Beberapa anggota kelompok memilih memanfaatkan sisa-sisa pekarangan yang tidak terlalu luas. Dengan tempat budidaya seluas 3 meter x di Batu dan daerah lainnya di Indonesia mengikuti pameran nasional bunga anggrek bertajuk Shining Orchid Week, di Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Jawa Timur, awal Agustus lalu.

Pameran ini sebagai upaya memotivasi petani di Batu untuk membudidayakan bunga cantik yang memiliki nilai ekonomis tersebut, Selasa (8/8). 8 meter, seorang petani bisa meraup penghasilan Rp 1,5 juta-Rp 2 juta per bulan. Bahkan, ada anggota Tani Rejeki yang memiliki enam genus bisa mendapatkan penghasilan Rp 9 juta-Rp 12 juta per bulan. Kelompok Tani Rejeki Barokah membidik wisatawan. Posisi desa mereka di jalur wisata memberikan keuntungan tersendiri. Mereka berharap bisa menawarkan anggrek di sepanjang jalur wisatawan, khususnya anggrek bulan. Selain itu, mereka juga menjual secara daring. ”Awalnya anggota disuruh menanam anggrek tidak mau. Sekarang kami kewalahan setelah merasakan keuntungan.

Tahun depan, kapasitas produksi 3.000-5.000 batang per bulan dinaikkan menjadi 5.000-10.000 batang,” kata Mastur. Mengenai potensi ekonomi anggrek dibenarkan Dedek Setia Santoso (38), pembudidaya anggrek yang membidik kelas kolektor. Beberapa bulan lalu, Dedek baru saja menjual salah satu anggreknya kepada seorang kolektor dari Jakarta dengan harga Rp 40 juta (jenis anggrek dendrobium dengan nama ”Margaret Thatcher”). Omzet penjualan Dedek dalam sebulan bisa mencapai Rp 50 juta-Rp 100 juta. Karena membidik kelas kolektor, Dedek yang memiliki tempat budidaya DD Orchids Nursery di Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, mengaku tidak memproduksi anggrek-anggrek itu secara massal. Anggrek dibuat dalam jumlah terbatas dan unik. Ia berusaha menyilangkan jenis-jenis anggrek langka. ”Saya bikin anggrek-anggrek yang langka dan eksklusif dengan jumlah terbatas. Saya juga membuat silangan dari beberapa jenis anggrek varian baru yang belum banyak dimiliki orang. Saya sudah menghasilkan hampir 1.000 silangan,” katanya. Untuk mengembangkan usaha budidayanya, Dedek juga merangkul petani di Desa Dadaprejo. Sebanyak 25 petani di desa tersebut menjadi jaringannya. Mereka bisa meraih penghasilan sekitar Rp 20 juta selama 5-6 bulan.

Masih fluktuatif

Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso mengatakan, anggrek telah menjadi salah satu bunga favorit masyarakat Batu, selain mawar dan krisan. Namun, kondisi anggrek masih fluktuatif, produksinya masih terbatas s ehingga dampak ekonomi yang dirasakan warga belum maksimal. ”Sejauh ini masyarakat yang mengandalkan ekonomi dari anggrek masih terbatas. Grafik anggrek di Batu fluktuatif. Harapannya dengan adanya kepengurusan Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) yang baru bisa bersinergi dengan pemerintah daerah untuk mengembangkannya,” katanya. Salah satu upayanya adalah memasukkan anggrek sebagai bunga hias di kantor pemerintah. Selama ini bunga hias yang ada masih menggunakan bunga potong lain. Punjul juga berharap langkah serupa dilakukan perhotelan. ”Ke depan, di masing-masing kamar hotel ada anggrek dan apel, ini wajib,” ucapnya. Upaya mengangkat anggrek dibenarkan Yani Rahmawati dari PAI Malang Raya. Menurut dia, melalui pameran pihaknya berharap bisa memperkenalkan anggrek Indonesia, termasuk anggrek asli pegunungan dan hutan di wilayah Malang, ke masyarakat Batu dan nasional. ”Harapannya masyarakat bisa terinspirasi dan tergerak untuk membudidayakan anggrek. Di Batu ini cukup banyak pembudidaya anggrek,” ujarnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas panen anggrek di Batu pada 2015 mencapai 29.417 meter persegi dengan jumlah produksi 1,4 juta batang. Angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 yang seluas 24.060 meter persegi dengan produksi 1,2 juta batang.

Sumber tulisan: https://kompas.id/baca/nusantara/2017/08/27/anggrek-penopang-ekonomi-masyarakat-batu/