Bulbophyllum lobbii

Padang, Kompas – Keberadaan ribuan jenis anggrek endemik dari Sumatera Barat mendesak untuk diidentifikasi, didokumentasikan, dan dibudidayakan untuk mencegah kepunahan. Saat ini, dari ribuan anggrek spesies di Sumatera Barat, baru sekitar 30 spesies yang sudah diidentifikasi.

Kepala Bidang Pelatihan Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Sumbar Eli Wiratma, Selasa (18/5), mengatakan, upaya identifikasi anggrek spesies dari kawasan Cagar Alam Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, itu baru dilakukan pada 2007. Hasilnya adalah sebuah buku Anggrek Spesies Sumatera Barat volume I yang di dalamnya berisikan pengungkapan sejumlah anggrek spesies yang merupakan plasma nutfah dari alam Sumatera Barat.

Beberapa di antaranya termasuk anggrek bulan (Phalaenopsis sp), anggrek kembang goyang (Bulbophyllum lobbi), anggrek mutiara (Coelogyne asperata), dan Papio Pedilum Cemberlianium yang dilindungi keberadaannya oleh pemerintah sebab keberadaannya yang sudah langka.

”Ya, semua anggrek spesies itu dari Sumatera Barat,” kata Eli seusai acara pelatihan perawatan anggrek yang diselenggarakan di Kota Padang. Peneliti anggrek, Dyah Widiastuti, dalam kesempatan itu menekankan soal pentingnya memerhatikan waktu dalam perlakuan pemberian asupan unsur-unsur hara pada anggrek.

Eli mengatakan, yang terjadi selama ini adalah eksploitasi besar-besaran terhadap anggrek spesies itu dari lingkungan hidupnya tanpa ada yang memikirkan soal muasal anggrek-anggrek tersebut. ”Awal mulanya kami bikin buku karena pada tahun 2007 ada pemeran anggrek di Surabaya, dan kami lihat anggrek-anggrek yang asli dari Sumatera Barat diklaim berasal dari daerah lain,” kata Eli, yang juga seorang biolog itu.

Menurut Eli, hal itu diperburuk dengan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat untuk menjual begitu saja anggrek-anggrek spesies tadi. ”Kadang dijual begitu saja sampai berkarung-karung dengan harga hanya beberapa puluh ribu, sementara nanti saat di luar (Sumbar) harga anggrek itu bisa menjadi puluhan juta rupiah,” katanya.

Pemerhati anggrek nasional, Dian Rahardjo, menambahkan, sudah saatnya setiap provinsi di Indonesia memiliki hutan koleksi anggrek spesies tersendiri yang jadi tanaman endemik di daerah tersebut. Ini penting mengingat ancaman kerusakan lingkungan yang semakin nyata mengancam ekosistem anggrek- anggrek spesies itu berada.

”Ya, jadi sebelum kayu-kayu di hutan itu ditebang, kasih kesempatan dulu bagi para peneliti dan penghobi anggrek untuk mengumpulkan dulu anggrek-anggrek itu agar bisa ditanam kembali,” kata Dian.

Ia menambahkan, hal terpenting dalam pelestarian anggrek adalah upaya ketat memerhatikan asal-usul anggrek saat akan melakukan persilangan guna menghasilkan hibrida. (INK)

Sumber tulisan: http://sains.kompas.com/read/2010/05/19/05275931/Anggrek.Sumbar.Unik.