JAYAPURA – Puluhan jenis bunga anggrek asli Papua ditengarai telah diklaim oleh beberapa daerah di Indonesia, bahkan ada yang diklaim oleh negara lain. Contohnya, ada anggrek asli Papua yang justru diakui oleh Toraja sebagai anggrek asli asal daerah mereka. Ini diketahui oleh Ketua DPD Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Papua, Yolanda Tinal, saat mengikuti Pekan Flori dan Flora Nusantara (PF2N) di Makassar beberapa waktu lalu.

“Tetapi kebetulan saya orang Sulawesi, saya berbicara dengan mereka, kembalikanlah ke Papua. Karena biar bagaimana pun kita bersaudara. Toraja dan Papua kan saudara,” ungkapnya kepada SH, Kamis (9/7). Anggrek yang diklaim Toraja adalah anggrek tebu yang punya istilah Latin Dramatopilum Papuanium.

Ada juga anggrek Papua yang dibawa ke Bangkok, Thailand kemudian dilakukan persilangan di sana. “Kemudian di Singapura, kalau kita mendarat di Bandara Changi, itu semua anggrek Papua, tetapi mereka (Singapura-red) sudah klaim itu punya mereka,” keluhnya.

Yolanda menjelaskan sampai saat ini dalam data PAI Papua ada 5.000 species anggrek asli Papua. Tetapi yang sekarang digalakkan 1.300 species. Dari 1.300 species asli Papua tersebut, PAI Papua sama sekali tidak berniat untuk melakukan persilangan. Sebab, anggrek asli Papua begitu indah.

Di antara ribuan species langka itu yang sering dibawanya keliling dunia sejak gubernur Papua masih dijabat oleh Yaap Sallosa, adalah jenis anggrek besi atau Dendrobium Violaceoflavons. Jenis ini merupakan yang paling langka dan paling bagus di dunia.

Kekayaan anggrek Papua berada di 29 kabupaten/kota. Seperti di Kabupaten Sarmi, ada jenis Lacentera. Kemudian di Sentani, Kabupaten Jayapura ada jenis anggrek besi atau Dendrobium Violaceoflavons. Untuk anggrek macan atau Grammatophillum Scriptum berasal dari Biak. Ada pula jenis anggrek kelinci atau Dendrobium Antinatum.

Untuk menghindari klaim dari pihak lain terhadap anggrek asli Papua, saat ini pihaknya sedang mencari sampai ke pelosok Papua species anggrek yang sudah terbilang langka. Bahkan ada beberapa species yang sedang diurus surat–suratnya untuk didaftarkan ke bagian Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Departemen Hukum dan HAM.

“Saya ini keliling cari sampai ke Genyem dan Sarmi, Keerom. Saya sudah cari semua dan katakan bahwa ini Papua punya. Sebab banyak orang luar negeri datang ke Papua, lalu ambil dari petani dan membawa ke negara mereka, kemudian dilakukan persilangan dan diklaim itu anggrek asal negara mereka,” ungkap Yolanda.

Untuk menghindari hal semacam itu terjadi lagi, sekarang PAI Papua juga langsung membeli berbagai jenis anggrek asli Papua dari petani dan melarang petani menjual langsung ke orang lain. Yolanda yang juga Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Papua itu, menjelaskan saat ini seluruh pengurus PAI keliling kabupaten/kota untuk memberikan penjelasan kepada para petani anggrek agar jangan mudah tergiur menjual anggrek kepada orang lain. Meskipun, ia tidak bisa menyalahkan petani begitu saja apabila mereka menjualnya, apalagi jika produk tanaman anggrek sedang melimpah.

Selain itu, PAI Papua mengajarkan kepada para petani untuk membudidayakan anggrek yang nantinya akan dibeli oleh PAI Papua. “Kemarin beberapa orang datang ke rumah untuk jual anggreknya. Lumayan, 1 ikat mereka jual Rp 100.000. Dia bawa 20 ikat jadi Rp 2 juta saya beli. Jadi mereka ada pelampiasan untuk bisa jadi mata pencaharian mereka,” jelasnya.

Sekretaris PAI Papua, Lucky Jakarimilena, mengungkapkan Perdasus Nomor 19 Tahun 2008 tentang HAKI tidak semuanya mendukung species varietas tanaman; hanya satu pasal dan dua ayat yang menyatakan bahwa tanaman asli Papua apabila keluar dari Papua harus memperoleh izin dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Itupun, Perdasus ini belum berjalan.

 

Sumber tulisan: http://www.sinarharapan.co/news/read/150709082/banyak-anggrek-papua-diklaim-negara-lain