Penampilan fisik bunga anggrek yang warna-warni, seolah lebih dekat dengan simbol kaum hawa, menjustifikasi anggrek berstigma feminin.

Tak mengherankan, sebagian orang akan menaikkan alis mendengar ada pria menyukai anggrek. Pernyataan Destario Metusala (26) mungkin bisa membalik anggapan itu.

Rio, panggilan Destario, yang sejak 2004 mengelola milis anggrek sebagai moderator, mengatakan, lebih dari 70 persen anggota aktif dalam diskusi milisnya laki-laki. Memulai dari puluhan anggota, kini anggota milis anggreknya mencapai lebih dari 1.000 akun anggota.

“Dari sisi ilmu pengetahuan, bunga anggrek tidak bisa diorientasikan pada stigma gender tertentu. Stigma feminin mungkin muncul dari kalangan tertentu yang menjustifikasi anggrek hanya dari penampilan fisik bunganya yang berwarna-warni. Saya rasa tidak hanya anggrek. Secara umum, bunga memang sering diidentikkan dengan sifat feminin, karena seperti itulah doktrin turun-menurun di kalangan masyarakat awam, ” tutur Rio, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bertugas di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur.

Bukan hanya itu, kata Rio. Pakar anggrek, baik dari sisi budi daya maupun taksonomi, entah itu di Indonesia ataupun dunia sejak tahun 1800-an hingga kini, lebih banyak didominasi laki-laki. “Bahkan, bisa dikatakan lebih dari 75 persen laki-laki, ” kata Rio, dalam percakapan jarak jauh belum lama ini.

Hal menarik lainnya, saat ini kalangan remaja pria banyak yang memiliki hobi mengoleksi dan bertanam anggrek. Karena itu, anggrek itu milik semua dan tidak mengenal batasan gender ataupun usia.

Rio bisa mempertahankan pernyataannya, karena ia peneliti anggrek, terutama anggrek spesies, yang lebih dikenal dengan sebutan anggrek alam. Namanya bahkan sudah menghiasi beberapa nama ilmiah anggrek, sebagai bukti sebagai penemu dan pemberi nama anggrek itu. September lalu, misalnya, LIPI memublikasikan anggrek spesies temuannya yang diberi nama ilmiah Dipodium brevilabium D Metusala & P O Byrne.

Pada 2007, ia terlibat dalam penelitian bersama ahli anggrek dari Singapura untuk mendeskripsikan spesies anggrek yang diduga baru. Dari proses kerja sama itu, ia belajar banyak mengenai seluk-beluk pendeskripsian anggrek, mulai dari penyiapan spesimen, membuat diagnosis, hingga mempelajari terminologi Latin untuk mendeskripsikan morfologi tanaman dan bunga anggrek. “Saat ini pun saya sedang membangun suatu pengelolaan spesimen herbarium anggrek untuk mendukung pengembangan taksonomi anggrek di Kebun Raya Purwodadi agar lebih optimal, ” tutur Rio, sarjana pertanian lulusan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran ” Yogyakarta. Ia tercatat sebagai wisudawan terbaik Fakultas Pertanian, tahun 2006.

Namanya Diabadikan

Rio mulai tertarik lebih jauh melirik seluk-beluk anggrek sekitar 2003-2004, sejak bergabung dalam milis anggrek. Ia mulai serius menekuni penelitian anggrek pada awal 2006, didorong rasa penasaran membeli anggrek tanpa label nama di suatu pameran. Rio, yang senang tanaman sejak kecil, mengoleksi anggrek di rumah.

“Saya mulai mencari dan mengumpulkan foto anggrek dari internet dan membaca literatur di perpustakaan kampus. Saya sangat jarang membeli buku literatur anggrek, karena pada saat itu umumnya buku anggrek cetakan luar negeri. Harganya jelas tidak terjangkau untuk saya yang hidup di keluarga sederhana, ” ujar Rio, kelahiran Yogyakarta, 17 Desember 1983, yang pernah bercita-cita jadi arsitek.

Menghadapi kondisi seperti itu, mau tidak mau ia terpaksa menghafal dan mengingat detail berbagai gambar jenis anggrek di buku perpustakaan kampus, lalu mencoba mencocokkan dengan koleksi anggreknya. “Kalau sampai di rumah lupa, ya besoknya balik lagi ke perpustakaan untuk mengingat gambarnya lagi, ” Rio tertawa mengingatnya.

Kecintaan kepada anggrek mengantarnya mendalami pembuatan line drawing, yang sangat penting dalam dunia taksonomi, begitu masuk jajaran LIPI. Ia juga acap terjun ke lapangan, terlibat dalam kegiatan eksplorasi. Paling berkesan baginya adalah eksplorasi ke Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT sering diidentikkan dengan suhu panas ekstrem, kekeringan, dan keberagaman flora yang rendah.

“Harapan saya untuk memperoleh banyak anggrek sangat rendah. Tapi, saya benar-benar tidak menyangka, sampai-sampai terperangah, saat mendapati beberapa jenis anggrek terrestrial tumbuh bersama di suatu tempat berjumlah puluhan hingga ratusan dengan kerapatan tinggi, sehingga sangat sulit untuk melangkah tanpa menginjaknya, ” tuturnya.

Melalui proses identifikasi yang rumit, anggrek itu kemudian dinamakan Dendrobium floresianum. Keterlibatannya dalam proses identifikasi spesies anggrek baru pada Januari 2008 yang dilakukan Peter O Byrne dan Vermeulen, mengantarnya mendapat “hadiah ” tak ternilai. Nama Rio diabadikan dalam nama spesies baru anggrek Vanda metusalae. “Nama metusalae tersebut diambil dari nama famili saya, sebagai penghargaan karena dianggap turut membantu dalam proses pendeskripsian anggrek baru tersebut, ” ujarnya.

Rio bekerja di sebuah perusahaan swasta multinasional yang bergerak di bidang agrochemical dan perbenihan, sebelum bergabung dengan LIPI. “Saya bisa meninggalkan (perusahaan itu) dengan legowo. Pekerjaan penelitian pun, kalau dilakukan dengan baik, tidak hanya memberi dampak manfaat secara pribadi, tapi juga memberi dampak positif ke masyarakat luas, bahkan ke masyarakat internasional. Itulah keinginan saya ke depan, ” kata Rio tentang pilihan hidupnya.

Bukan sekadar janji, atau angan-angan. Rio mewujudkan keinginan itu dengan membagikan pengetahuannya melalui milis. Simak saja anggrek.org, tulisan Rio mudah ditemukan di sana.

Sumber tulisan: www.lipi.go.id