Otonomi dan Eksploitasi Sumber Daya Alam
Manajemen pelaksanaan otonomi daerah seringkali memberikan konsekuensi untuk mengambil kewenangan sebesar-besarnya dalam pengelolaan sumberdaya alam dikawasannya. Jika tidak berhati-hati, otonomi seringkali menggiring untuk menghalalkan eksploitasi sumberdaya alam secara cepat dalam skala besar untuk satu tujuan, yaitu quick income alias pendapatan instan.

Alasan klasik yang sering dijadikan tameng pelindung yakni dalih untuk memenuhi tuntutan pendapatan asli daerah dan modal pembangunan daerah secara cepat dan signifikan. Potensi eksploitasi yang lebih “buas” justru membayangi kabupaten-kabupaten baru dalam rangka penguatan capital daerah. Sedangkan seperti yang kita semua pahami, bahwa sumberdaya alam yang paling cepat menghasilkan pendapatan tunai alias “cash income” adalah hutan termasuk potensi hayati maupun non hayati yang ada didalamnya, khususnya sebagai sumber kayu dan bahan mineral.

Tidak hanya sampai disitu saja, konversi lahan hutan menjadi perkebunan merupakan proyek menggiurkan untuk memperoleh pendapatan secara cepat dan praktis. Maka tak perlu heran, jika citra satelit saat ini sudah tidak dapat menemukan kilau hijaunya jamrud khatulistiwa di gugusan kepulauan Indonesia. Kerusakan hutan yang dipicu oleh konversi lahan untuk monokultur sawit, hutan industri (kayu pulp), pertambangan terbuka, pembangunan infrastuktur dan kebakaran hutan adalah deretan ancaman yang harus dikendalikan secara bijak.

Lalu Apa Kaitannya Dengan Anggrek Alam?
Dengan semakin menipisnya ekosistem hutan hujan tropis yang berperan sebagai habitat utama bagi ribuan anggrek-anggrek alam Indonesia, maka tak elak kepunahan plasma nutfah anggrek alam sudah di depan mata.

Tanggung Jawab Siapakah Ini??
Tentu saja tanggung jawab kita semua sebagai warga negara sekaligus pecinta dan pelestari anggrek. Kepunahan anggrek di alam tidak hanya 100 persen oleh kerusakan habitat hutan, eksploitasi dalam rangka pemenuhan konsumsi kolektor anggrek juga menyumbang persentase yang cukup signifikan terhadap degradasi populasi anggrek alam. Oleh karena itu, sebagai pecinta anggrek (khususnya pedagang dan kolektor anggrek species) tentunya memiliki tanggung jawab yang tak kalah besarnya dengan tanggung jawab yang diemban oleh pemerintah. Banyak pihak yang lebih memilih untuk mengambil peran dalam eksploitasi, meskipun terkadang harus mengeluarkan modal yang cukup besar dengan spekulasi yang tinggi. Akan tetapi, pada giliran dimana peran untuk mengkonservasi/melestarikan dibuka… ternyata masih banyak pihak yang menunjuk pemerintah sebagai pemain tunggal.

Komunitas Lokal Sebagai Prioritas Dalam Strategi Konservasi Anggrek di Habitatnya
Pada kondisi saat ini konsep pemberdayaan masyarakat akan lebih efektif dibanding konsep konservasi secara terpusat. Semakin banyak gerakan-gerakan konservasi “terarah” ditingkat bawah justru akan mempermudah jalannya upaya konservasi dalam skala luas.

Komunitas-komunitas masyarakat potensial yang hidup di kawasan habitat anggrek alam, atau yang berbatasan dengan habitat anggrek harus menjadi prioritas awal untuk pembinaan dan pemberdayaan karena komunitas inilah yang berhubungan langsung dengan kelestarian anggrek di habitatnya.

Hal diatas menjadi relevan, mengingat hampir semua aktivitas konversi habitat hingga over-eksplotasi anggrek akan melibatkan komunitas lokal, minimal sebagai pemberi “ijin” non formal, penyedia tenaga teknis atau sebagai pemandu lokal. Disisi lain, komunitas ini termasuk kelompok yang paling rentan terhadap dampak kerusakan hutan dan punahnya populasi anggrek. Apabila hanya mengandalkan langkah eksploitasi sebagai senjata utama dalam mengeruk potensi anggrek alam, maka masa-masa keemasan hanya akan berlangsung SEMENTARA.

Komunitas ini perlu berpikir lebih jauh agar potensi wilayahnya tidak serta merta “diboyong” keluar dari wilayahnya. Karena pada saat terjadi kelangkaan anggrek alam di habitatnya, maka sumber pendapatan alternatif ini lambat laun akan segera berakhir.

Satu hal yang perlu kita ingat lagi, bahwa anggrek memiliki karakteristik biologi khas yang menjadikan dia sebagai tumbuhan yang rentan kepunahan. Persentase perkecambahan biji anggrek yang sangat rendah di alam, pertumbuhan vegetatif yang relatif sangat lambat, sistem penyerbukan yang spesifik serta masa pembungaan yang umumnya musiman menjadi faktor pembatas terhadap populasinya di habitat aslinya. Oleh karena itu, sekali populasi anggrek di alam rusak parah, maka perlu puluhan bahkan ratusan tahun untuk dapat mencapai populasi yang stabil seperti sedia kala.

Menjual anggrek alam dengan harga tinggi bukanlah langkah yang efektif untuk mengatasi hal ini…anggrek bukanlah komoditas hidup utama yang harus ditebus berapapun mahalnya. Dengan melambungnya harga hingga mencapai nilai yg tidak realistis (ditandai dengan geleng-geleng kepala keheranan), maka sebagian besar konsumen justru akan berpikir realistis dan akan berlari mencari jenis lainnya dengan harga yang lebih terjangkau. Mungkin hanya beberapa kolektor lama yang akan bertahan, merekapun tidak akan membeli banyak, bahkan cenderung cukup memiliki varietas yang terbaik saja. Mengandalkan pedagang?! Mereka justru lebih realistis dibanding konsumen umum.

Anggrek Alam Lokal Sebagai Aset Jangka Panjang
Salah satu pendekatan untuk menghadapi masalah ini yaitu dengan membudidayakan anggrek alam yang ada di wilayahnya. Varian-varian istimewa harus dijaga dan dimanfaatkan untuk jangka panjang sebagai “pusaka andalan” wilayah tersebut (sebagai induk dalam kultur biji dan kultur jaringan).

Komunitas lokal di daerah di luar Jawa misalnya, sering identik dengan komunitas adat, maupun komunitas tradisional lainnya. Oleh karena itu, adanya pembinaan mengenai pengenalan anggrek, teknik budidaya, pemahaman konservasi, dan ilmu-ilmu pendukung lainnya sangatlah penting dilakukan untuk meningkatkan kapabilitas dari aspek perbanyakan/propagasi anggrek.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah penguatan kelembagaan komunitas. Pembinaan ini tentunya harus didukung pula oleh institusi konservasi nasional (sebagai pemberi arahan), institusi pendidikan (misal. universitas setempat sebagai pemberi pertimbangan dari sisi akademik ilmiah), LSM (penggerak potensial di level bawah), investor lokal, serta dinas pemerintah terkait untuk membantu dalam proses pengadaan modal, atau bibit kultur jaringan dan saprodi. Dengan demikian, anggrek alam yang dihasilkan selain akan lebih berkualitas dari segi mutu juga dapat bersaing dalam segi harga. Memang sistem ini memerlukan proses cukup panjang, ketelatenan, serta kerja keras. Sebaliknya, tidak semua yang praktis dan singkat itu justru lebih baik.

Komunitas lokal/adat yang mapan diharapkan akan memiliki tanggung jawab moral dalam penjagaan kelestarian anggrek di habitatnya karena itulah “harta” mereka. “Rasa memiliki” yang sebelumnya diwujudkan dengan aktivitas eksploitasi habis-habisan, maka lambat laun akan diimplementasikan menjadi rasa ingin melindungi.

Mereka akan berharap, konsumen yang menginginkan anggrek khas wilayah tersebut akan membeli anggrek yang telah mereka budidayakan dan bukan dengan berburu di hutan. Disinilah kekuatan kelembagaan komunitas diuji kekompakan dan konsistensinya.

Dalam segi pemasaran, saat ini banyak tersedia media publikasi dengan rentang jangkauan pasar yang luas. Diantaranya melalui internet. Cukup melimpah forum-forum mailing list yang mengangkat topik pertanian, tanaman hias, bahkan spesifik ke anggrek.

Media online ini dipandang sebagai langkah yang jitu dalam pemasaran langsung pada konsumen akhir, bahkan tidak jarang pula akan bertemu dengan para distributor atau perorangan yang siap menjadi penyalur untuk daerahnya. Selain melalui media internet, dapat pula melalui bantuan organisasi yang bergerak dibidang anggrek. Organisasi ini tentunya akan memiliki akses yang lebih luas kepada para pedagang anggrek di kota-kota besar.

Sebagai penutup, konsep pelestarian berbasis komunitas lokal ini tentu tidak akan berjalan tanpa dukungan dari komunitas potensial lainnya, seperti dari para kolektor, hobiis, penggemar anggrek, maupun pedagang anggrek. Kelompok masyarakat ini memegang peranan penting untuk menciptakan suasana dinamis yang mendukung gerakan pemberdayaan komunitas lokal serta menggerakan roda pemanfaatan komoditas anggrek secara lestari dan berkelanjutan. Terakhir, bahwa pelestarian berbasis komunitas lokal akan berjalan secara efektif apabila memberi manfaat nyata yang realistis bagi pelakunya.

Salam Lestari!

Sumber tulisan: www.lipi.go.id