Genus anggrek Phalaenopsis mendapat nama yang berasal dari bahasa Yunani, Phalaina yang berarti kupu-kupu, dan opsis  yang berarti menyerupai (Mayr 1998). Tanaman ini pertama kali dideskripsikan oleh Rumphiies pada tahun 1653 dengan nama Angraecum album magis, namun nama tersebut tidak dikenal umum. Pada tahun 1825, Dr. Karl Blume menemukan kembali anggrek tersebut di hutan tropik di Pulau Jawa. Tanaman ini memiliki bunga berwarna putih yang menyerupai  kupu-kupu sehingga Blume memberi nama baru yaitu Phalaenopsis amabilis (Sessler 1978). Phalaenopsis diperkirakan berjumlah kurang lebih 46 spesies. Pada tahun 1990, pemerintah Indonesia   menetapkan anggrek Phalaenopsis amabilis sebagai Puspa Pesona. Hal ini sangatlah tepat mengingat dari jumlah 45–46 spesies yang ada, 22 spesies di antaranya terdapat di Indonesia (Sweet 1980, Christenson 2001).

Phalaenopsis pertama kali ditemukan di daerah dataran rendah, beberapa daerah panas, dan hampir seluruh tempat lembab di dunia, antara lain Filipina, Jawa, Kepulauan Malaya, Papua Nugini, Taiwan, dan Australia (Sessler 1978, Sweet 1980). Berdasarkan vegetasinya atau tempat tumbuhnya di alam, Phalaenopsis digolongkan sebagai anggrek epifit, yaitu menempelkan akar- akarnya pada tanaman lain atau benda-benda lain tanpa merugikan tanaman yang ditumpanginya (Stubbings 2006). Phalaenopsis akan tumbuh dengan baik bila mendapat cahaya kira-kira 1.200 foot-candles (Nash 1997) dan suhu optimum 24–29°C pada siang hari dan 21–24°C pada malam hari, serta kelembaban udara yang tinggi sekitar 70–75%.

 

Anggrek Phalaenopsis sebagai Induk Silangan

Persilangan anggrek untuk tujuan mendapatkan varietas unggul baru merupakan salah satu upaya dalam pengembangan anggrek yang telah dilakukan para pemulia sejak dulu hingga sekarang. Untuk mendukung kegiatan pemuliaan tersebut, diperlukan pemilihan induk yang mempunyai sifat-sifat unggul sehingga perpaduan dari sifat-sifat tersebut akan muncul pada hasil silangannya. Di Indonesia, tanaman anggrek Phalaenopsis  sebagai sumber genetik banyak dijumpai di hutan belantara, namun potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Pengetahuan mengenai sifat-sifat penurunan karakter anggrek alam masih sedikit diulas dan diketahui sehingga pemanfaatan spesies  sebagai  induk persilangan  belum maksimal.

Phalaenopsis  merupakan  keluar ga Orchidaceae, subfamili Epidendroidae, tribe Vandeae, dan subtribe Aeridinae (Dressler 1993, Criley 2008). Berdasarkan karakter morfologi, Phalaenopsis dibedakan dalam lima grup, dua di antaranya paling penting dalam persilangan yaitu grup Euphalaenopsis dan grup Stauroglottis. Yang termasuk   dalam grup Euphalaenopsis misalnya Phal. amabilis, Phal. aphrodite, Phal. philippinensis, Phal. sanderiana, Phal. schilleriana, dan Phal. stuartiana. Karakter penting yang dimiliki spesies dalam grup Euphalaenopsis antara lain petal yang panjang dan lebih lebar daripada sepal, memiliki dua appendages yang nyata pada bagian depan bunga, warna daun bagian atas lebih gelap dan berwarna lembayung pada bagian bawah, berbunga amat banyak dan berwarna cerah.   Anggrek yang tergolong grup Stauroglottis antara lain Phal. amboinensis, Phal. equestris, Phal. gigantea, Phal. lindenii, Phal. venosa, dan Phal. violacea memiliki sepal dan petal berukuran hampir sama besar, bibir bunga sempit, dan tanpa appendages, daun berwarna hijau terang baik pada bagian atas maupun bawah, dan bunga berpola berwarna cerah (Tippit 1997).

 

Hibridisasi dan Hibrid Phalaenopsis

Persilangan adalah teknik penyerbukan bunga dengan meletakkan pollen (serbuk sari) pada stigma (kepala putik). Pada tanaman anggrek biasanya dilakukan oleh serangga atau dengan bantuan manusia, dalam arti penyilangan terkendali. Beberapa anggrek dijumpai memiliki sifat cleistogamous  (menyerbuk sendiri). Persilangan dapat dilakukan pada beberapa genus yang mudah mengadakan persilangan antargenus, namun persilangan tersebut hanya terjadi dalam kelompok tanaman yang memiliki kemiripan sifat dan karakter.

Persilangan anggrek untuk mendapatkan varietas baru tidak saja hanya dilakukan pada anggrek alam atau spesies, tetapi juga banyak dilakukan pada anggrek hibrid. Anggrek hibrid unggul biasanya telah memiliki karakter-karakter lebih unggul sehingga akan menghasilkan karakter yang lebih baik dan beragam pada keturunannya. Menurut Davidson (1994), persilangan yang dilakukan beberapa kali, sifat- sifat yang tidak diharapkan muncul dapat ditekan atau dikurangi.

Pemilihan induk jantan dan betina yang akan disilangkan harus mempertimbangkan sifat-sifat kedua induk tersebut, misalnya ukuran bunga, warna, dan bentuk bunga yang merupakan sifat dominan, akan muncul kembali pada progeninya. Agar persilangan tidak mengalami kegagalan, dalam memilih induk betina sebaiknya dipilih bunga yang kuntumnya kuat, tidak cepat layu atau gugur, mempunyai style (tangkai putik) dan ovary (bakal buah) lebih pendek agar pollen tube mudah mencapai embryo sac (kantong embrio) yang terdapat pada bagian bawah ovary.

Pollinia dari bunga yang berukuran kecil jika diserbukkan pada stigma bunga yang berukuran besar biasanya mengalami kegagalan, karena  pollen tube tidak dapat mencapai embryo sac sehingga fertilisasi tidak terjadi dan biji tidak terbentuk. Bunga dari tanaman yang bersifat triploid biasanya steril, namun masih dapat dimanfaatkan sebagai induk betina apabila memiliki sifat dominan dalam kerajinan berbunga.

Proses pemuliaan anggrek dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu (1) melakukan polinasi dan pematangan biji, (2) penyebaran biji secara  in vitro, perkembangan protocorm dan pertumbuhan planlet, (3) pertumbuhan tanaman muda menjadi dewasa secara in vivo, dan (4) penilaian karakter dan kualitas bunga (Hee et al. 2009). Bunga yang telah mengalami polinasi akan mengalami kelayuan pada   perianthium (perhiasan bunga). Zigot yang terbentuk setelah pembuahan (fertilisasi) akan berkembang menjadi embrio di dalam biji. Apabila zigot terbentuk pada saat itu pula dapat disemai atau ditumbuhkan secara in vitro. Waktu terjadinya fertilisasi pada anggrek sangat bervariasi bergantung pada jenis dan varietasnya, dihitung sejak mulai dilakukan penyerbukan sampai terjadi pembuahan. Pada anggrek Phalaenopsis fertilisasi sampai terbentuk buah dapat terjadi lebih dari 4 bulan.

Kegiatan persilangan harus didasarkan pada pengetahuan mengenai sifat-sifat tetua yang akan digunakan, silsilah, dan perilaku pewarisannya sehingga hasilnya dapat diperkirakan. Sebagai contoh kedua tetua yang memiliki warna bunga dan postur tanaman yang berbeda akan menghasilkan perpaduan karakter postur tanaman, bentuk, dan warna dari kedua tetuanya. Selanjutnya apabila hasil silangan tersebut disilangkan lagi dengan salah satu tetuanya, akan menghasilkan turunan yang lebih bervariasi. Semakin lanjut persilangan dilakukan, semakin besar variasi dan semakin banyak pilihan.

Karakter-karakter yang diinginkan untuk bunga potong maupun bunga pot anggrek antara lain (1) berbunga sepanjang tahun, (2) produksi bunga tinggi /rajin berbunga, (3) cepat pertumbuhannya, (4) tahan terhadap penyakit, (5) pertumbuhan kompak, (6) bunga tahan lama, (7) bunga menarik, (8) ukuran bunga, (9) warna bunga cerah, (10) jumlah kuntum bunga, (11) panjang tangkai bunga, (12) susunan bunga, (13) disukai pasar, dan (14) mudah pengepakannya.

 

Tabel 1. Persilangan anggrek Phalaenopsis antarspesies dan hibrid
Beberapa contoh persilangan Phalaenopsis spp. antarspesies (Primary hybrid)

  • Phal. venosa  Phal. amboinensis: Phal. ambonosa
  • Phal. amboinensis x Phal. lueddemanniana: Phal. ambomanniana
  • Phal. equestris x Phal. fimbriata: Phal. Borobudur
  • Phal. equestris x Phal. stuartiana: Phal. Cassandra
  • Phal. amabilis x Phal. amboinensis: Phal. Deventariana
  • Phal. amboinensis x Phal.  fasciata: Phal. Golden Pride
  • Phal.  fasciata  x Phal. venosa: Phal. Golden Princess
  • Phal. lueddemanniana x Phal. volacea: Phal. Luedde-violacea
  • Phal. amboinensis x Phal. mannii: Phal. Mambo
  • Phal. volacea x Phal. amboinensis: Phal. Princess Kaiulani

 

Tabel 2. Beberapa contoh persilangan Phalaenopsis hybrid dengan Phalaenopsis hybrid

  • Phal. Musashino  x Phal. Grace Palm: Phal. Yukimai
  • Phal. Koch Schneestern x Phal. Meridian: Phal. Taisuco Kochdian
  • Phal. Gaster x Phal. Pinlong Davis: Phal. Taisuco Gaster
  • Phal. Taisuco Eagle x  Phal. Taisuco Gaster: Phal. Taisuco Magic
  • Phal. Paifang Auckland x Phal. Princess Kaiulani: Phal. Sogo Red Bird
  • Phal. Misty Green  x Phal. Liu- Tuen-Shen: Phal. Golden Peoker
  • Phal. Carnival x Phal. Golden Pride: Phal. New Cinderella
  • Phal. Musashino x Phal. Su’s Red Lip: Phal. Hsinying Lip
  • Phal. Golden Peoker x Phal. Ching Her Buddhae: Phal. Haur Jin Diamond
  • Phal. Minho Princess x Phal. Leopard Prince: Phal. Sogo Beach

 

Penulis: Rianawati, S dan Widiastoety , D. Balai Penelitian Tanaman Hias Jln. Raya Ciherang-Segunung, Pacet Cianjur, Jawa Barat 43253.
Sumber tulisan: www.pertanian.go.id